Image Source : cumicumi
Bagi banyak penyintas bibir sumbing, perjuangan berat bukan melulu soal proses operasi dan pemulihan fisik yang berjilid. Ya, terdapat luka lain yang sejatinya lebih menusuk dan sukar disembuhkan, yakni cemooh, tatapan sinis, hingga perundungan yang datang tak berhenti sedari masa kanak-kanak. Bahkan, luka yang datang dari stigma, terkadang jauh lebih membekas daripada luka jahitan operasi.
Hal itu lah, yang juga dirasakan oleh seorang wanita bernama Setya Alit Purnawati alias Alit. Ia merupakan seorang penyintas bibir sumbing asal Pati, Jawa Tengah, yang telah membagikan kisahnya kepada dr. Ngabila Salama, dalam segmen Weekend Sehat, di acara podcast Special Interview Cumicumi.com.
Alit bercerita, bahwa dirinya lahir dengan kondisi bibir dan langit-langit sumbing. Kondisi yang akhirnya mendapatkan penanganan, lewat program Smile Train Indonesia. Tentu tidak mudah perjalanan yang dilalui Alit.
Baca Juga: Anak Sumbing Bukan Aib! Ini yang Perlu Diketahui Orang Tua Baru
Operasi langit-langit baru dilakukan di usia 4 tahun, jauh dari usia ideal 12 bulan, yang membuat suaranya sengau selama bertahun-tahun. Ia baru mengenal Smile Train di usia 16 tahun, dan menjalani revisi bibir maupun langit-langit hingga usia 21-22 tahun.
Dari perjalanan panjang itu, Alit pun berbagi cerita yang sungguh mengiris hati. Alit bercerita, kalau pengalaman perundungan terburuk justru tidak datang dari teman sebaya, namun dari gurunya sendiri.
"Hinaan dari guru saya sendiri Bullyan dari guru saya sendiri yang nggak bisa saya lupakan sampai sekarang tapi Alit memaafkan tapi sampai sekarang tuh tidak bisa terlupakan karena beliau adalah seorang Guru gitu loh." Ujar Alit melalui video yang diunggah kanal Youtube Cumicumi (19/06/2026)
Baca Juga: Bukan Sekadar Operasi: Perjuangan Emosional di Balik Setiap Senyum Anak Sumbing
Ketika ditanya lebih jauh soal bentuk perundungan yang diterimanya, dengan berat hati Alit mengulang kembali ucapan yang membekas itu. Yakni, ketika sang pengajar meragukan masa depannya hanya karena kondisi fisiknya.
"kamu seperti ini mana bisa kamu sukses," kata Alit menirukan ucapan gurunya.
Meski dalam dan perih menggores, luka di hati justru tidak membuat Alit hancur. alih-alih terpuruk, ucapan itu justru menjadi pemantik semangat bagi Alit untuk membuktikan diri. Ia mengaku sejak kecil memang bukan tipe orang yang mau berlarut-larut dalam kesedihan.
"Tapi di diri Alit emang dari kecil itu nggak mau yang namanya diam saja apa yang harus merenung itu. Enggak. Saya akan buktikan. Saya akan sukses di depan. Saya akan buktikan di depan matanya sendiri," tegasnya.
Baca Juga: Beri Edukasi Soal Pemicu Asam Urat, dr. Ngabila: Jauhi BENJOL
Kini, pengalaman pahit itu justru menjadi bahan bakar bagi Alit untuk aktif mendampingi pasien-pasien sumbing lainnya melalui media sosial. Ia pun menitipkan pesan khusus bagi mereka yang masih berjuang menghadapi stigma serupa.
"mungkin bullyan itu pasti ada orang normal itu orang normal aja dibully apalagi kita ya mempunyai keistimewaan. Ayo, kalian nggak sendiri? Masih ada Kak Alit, masih ada smile train Indonesia, pasti kalian cantik. Senyummu manis, hinaanmu adalah semangatmu," pesannya.