Image Source : https://www.youtube.com/@cumicumicom
Di dunia ini memang tidak ada yang kekal dan abadi. Baik makhluk hidup, hingga perasaan yang ada di dalam hatinya. Seberapa besar rasa cinta seseorang akan sesuatu, bisa saja berubah sewaktu-waktu, begitu pula sebaliknya. Hal itu lah, yang dialami oleh Syafrudin Budiman alias Gus Din, selaku Relawan Prabowo-Gibran.
Ketika menghadiri acara podcast On The Table bersama Host Vincent Bero, Gus Din mengaku sempat menjadi pembenci mantan presiden Joko Widodo. Khususnya, pada momen kontestasi Pemilihan Umum tahun 2014. Kala itu, Gus Din sendiri tergabung dalam relawan pasangan calon Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Dalam momen itu lah, hati Gus Din kerap dipenuhi rasa benci terhadap Jokowo. Mulai dari tudingan yang mengaitkan komunisme, hingga anti agama islam, semua itu tertanam di kepala Gus Din.
"Saya sebelumnya sempat terdogma juga tercuci otak bahwa dia anti Islam lah" ucap Gus Din dalam video yang tayang di kanal Youtube Cumicumi (23/06/2026)

Berubahnya perasaan benci menjadi cinta di hati Gus Din, sejatinya bermula ketika dirinya mendengar sebuah dakwah, yang tayang di salah satu stasiun televisi Islam. Kala itu, Gus Din diingatkan untuk memberikan kritisi dengan cara yang benar, sesuai dengan syariat islam. Yakni dengan sopan santun, bukan dengan fanatisme buta yang sebelumnya ia lakukan.
"Selama pemimpin negeri itu memperbolehkan masih salat tidak dilarang. Saya kan aktivis muslim. Bahwa itu pemimpin itu tidak boleh dikritik dan dihajar. Kalau kritik harus dengan sopan di situ saya eh enggak boleh ternyata. Hm. Baru tahu oposisi itu ada caranya kalau dalam Islam" tuturnya
Perasaan benci yang mulai goyah di hati Gus Din, akhirnya sirna tak bersisa ketika Jokowi memilih untuk hadir pada rangkaian aksi demonstrasi 212. Pada momen itu lah, semua prasangka buruk yang ia miliki terhadap Jokowi runtuh semua. Sebaliknya, Gus Din kini merasa kalau Jokowi merupakan sosok yang agamis, nasionalis dan tradisionalis.
"Jokowi masih salat bersama, takbiran bersama datang di puncaknya ketika 212 malah Pak Jokowi enggak takut datang kan ketemu di Monas itu. Di situ saya semakin simpati, ternyata tidak seperti yang dituduhkan Pak Jokowi itu agamis, nasionalis, tradisionalis, dan juga abangan. Makanya figur beliau dicintai rakyat dan saya termasuk yang sadar diri bahwa oh tidak seperti yang dituduhkan" tambahnya lagi
Saksikan selengkapnya hanya di kanal Youtube Cumicumi