logo shopcumi
  • Seleb News
  • 2 jam yang lalu

Penyebab Hancurnya Ekosistem Industri Drama Korea di Dalam Negeri

Image Source :

‌

‌
‌
‌
‌
‌
‌
  • ‌
‌
‌
‌
‌
‌
  • ‌
‌
‌
‌
‌
‌
  • ‌
‌
‌
‌
‌
‌
  • ‌
‌
‌
‌
‌
‌
  • ‌

Saat ini, popularitas drama Korea memang sudah menyebar ke skala internasional. Sayangnya, kesuksesan drama Korea ternyata tak berbanding lurus dengan kondisi di negara asalnya. Belasan asosiasi pelaku industri pertelevisian di Korea Selatan belum lama ini membongkar kenyataan bahwa industri drama Korea malah sedang di titik menyedihkan.

Dalam konferensi pers di Korea Press Center, Seoul, pada Rabu (4/11), asosiasi itu membeberkan sederet penyebab hancurnya ekosistem tayangan drama Korea di domestik, salah satunya lantaran struktur finansial.

Presiden Asosiasi Produksi Drama Korea Song Byeong Joon menyoroti bengkaknya ongkos produksi hingga struktur finansial saat proses produksi. Dia semapt membongkar bahwa ada jebakan struktur finansial yang kini mencekik para sineas, di mana suntikan modal raksasa tak lagi menjamin keuntungan drama tersebut.

"Kenaikan biaya produksi dan menyusutnya kapasitas investasi telah menciptakan struktur di mana semakin banyak perusahaan berinvestasi pada tayangan, semakin banyak pula uang yang mereka hilangkan. Hal itu yang kemudian berujung pada menurunnya jumlah produksi," ungkap Song Byeong Joon.

Berdasarkan data asosiasi, volume produksi drama terjun bebas sekitar 30 persen hanya dalam dua tahun, merosot dari 141 judul pada 2022. Bahkan, stasiun televisi siaran bebas raksasa, seperti KBS, MBC, dan SBS juga ikut babak belur lantaran kondisi ini. Jatah tayang jeblok dari 91 judul pada 2012 menjadi sisa 32 judul pada 2025, kondisi ini makin dipersulit oleh perolehan iklan yang terus lesu.

Selain itu, para pelaku industri juga tak ragu menyebut platform streaming bermodal raksasa macam Netflix dan Disney+ sebagai dalang rusaknya standar ongkos produksi. Monopoli platform asing tersebut dinilai merampas kemampuan perusahaan lokal untuk mempertahankan dan mengelola hak kekayaan intelektual (IP) mereka sendiri.

Bukan hanya itu, penderitaan sineas juga disebut makin terperosot dengan gempuran tren tayangan format pendek dan otomatisasi AI. Dampak instannya langsung menyapu ketersediaan lapangan kerja. Bahkan, Presiden Asosiasi Produser Drama Korea Kim Jong Chang menyoroti hilangnya ruang bagi talenta muda untuk memupuk portofolio.

"Tidak ada lapangan pekerjaan. Maraknya konten format pendek dan AI semakin memperburuk masalah ini. Kami sadar harus beradaptasi dengan perubahan tren, tapi kenyataan yang kami hadapi saat ini benar-benar sangat sulit," paparnya.

Di sisi lain, Kementerian Kebudayaan justru berencana memangkas rancangan anggaran sektor ini dari 91,8 miliar won menjadi 87,3 miliar won pada 2027. Padahal pada 2025, ekspor Korean Wave sukses meraup US$18,98 miliar, yang mana US$1,25 miliar di antaranya merupakan kucuran keringat murni dari industri penyiaran dan video.

Dengan kondisi tersebut, para sineas mendesak pemerintah Korea Selatan segera merumuskan strategi taktis guna memulihkan ritme produksi ke era sebelum invasi streaming asing. Mereka juga menuntut pembentukan dana investasi jangka menengah dan panjang senilai 1 triliun won yang dialokasikan khusus untuk produksi lokal.

"Dari kacamata ekosistem industri, jika ada 100 drama yang diproduksi, 99 drama lainnya jauh lebih penting daripada satu drama yang meledak di pasaran. Sebab dari 99 produksi itulah para kreator bisa tumbuh dan berkembang," pungkas Song. (ND)

related articles
Drama Keluarga Usai, Gamyla Ashab Pastikan Aron Ashab Kembali ke Pesantren

  • Seleb News
  • 2 minggu yang lalu
Shinera Entertaiment Sukses Gelar Drama Musikal SIRENA: Air Mata Lautan, Bukti Hiburan Menghibur, Mendidik dan Memberdayakan

  • Seleb News
  • 3 minggu yang lalu
Kemenangan Dramatis Pemilah Sampah jadi Kepala Desa di Bekasi

  • Viral
  • 1 bulan yang lalu