Image Source : ilustrasi AI
Tidak banyak tahu, bahwa di tubuh kita telah sudah tinggal tamu yang tidak diundang. Ia tidak menggangu, tidak juga berisik. Setidaknya, untuk sekarang. Namun, pada momen yang tepat, ia mulai dan mengambil alih. Tamu itu tak lain adalah Mycobacterium tuberculosis.
Hal itu diungkap oleh praktisi kesehatan masyarakat, dr. Ngabila Salama, ketika hadir sebagai bintang tamu, di acara podcast Special Interview, kanal Youtube Cumicumi. Ya, dalam kesempatan itu, dr. Ngabila menjelaskan bahwa kuman TBC kemungkinan sudah hidup, di tubuh. 90% masyarakat Indonesia.
Tak dapat dipungkiri, sebagian besar masyarakat memang cenderung memang tidak tahu, kalau tubuh mereka sudah terinfeksi TBC. Bukan karena tidak bergejalan, tetapi tamu tak diundang bernama bakteri TBC itu sedang tertidur, atau dorman dalam istilah medis.
"Jadi sebenarnya orang Indonesia itu 90%-nya pasti sudah terinfeksi kuman TBC. Artinya 9 dari 10 orang tuh sebenarnya udah ada kuman TBC di dalam tubuhnya tetapi kondisinya dorman atau tidur tidur" Ucap dr. Ngabila Salama, dalam video yang diunggah di kanal Youtube Cumicumi (21/7)

Perbedaan inilah, yang membuat penularan TBC sedikit berbeda dengan penyakit lainnya. Kita tak harus baru saja bertemu dengan virus TBC untuk jatuh sakit. Bisa saja, ia sudah menunggu sejak lama di dalam tubuh. Diam tanpa suara, menunggu momen yang tepat. Begitu celah pertahanan terbuka sedikit, ia masuk sepenuhnya.
"Begitu imun jelek drop imunodefisiensi apakah dia ada diabetes melitus, HIV, imun rendah, penyakit komorbid, autoimun, dia pasti akan jadi sakit TBC seperti itu. Jadi, jadi bangun kumannya gitu. jadi hidup sehingga kalau dia ada di paru-paru biasanya paling banyak diamnya di paru-paru dia akan jadi batuk-batuk. Jadi gejalanya seperti gejala TBC" lanjutnya
Sebelum masuk ke tubuh manusia, sikap Mycobacterium tuberculosis mirip dengan bakteri-bakteri lainnya. Ia hidup di daerah lembab, yang jarang terjamah ventilasi cahaya dan sirkulasi udara yang baik. Tanpa terpapar sinar matahari, usia bakteri TBC berpotensi menjadi jauh lebih panjang. Pasalnya, dengan sinar matahari, bakteri TBC hanya mempu bertahan hidup dalam hitungan menit. Sedang tanpa kehadiran sinar matahari, usianya mungkin saja sampai satu minggu.
"Seperti kuman-kuman lainnya sebenarnya TBC ini paling senang di tempat yang lembab tanpa apa namanya ventilasi cahaya dan udara yang baik. Jadi kalau misalnya kuman atau TBC ini kena sinar matahari langsung hitungan menit sampai jam mati, tapi kalau dia di tempat yang tertutup, lembab, AC, itu 1 minggu juga masih bisa bertahan hidup" jelas dr. Ngabila

Kabar baiknya, TBC seratus persen dapat disembuhkan. Lewat pengobatan intensif dengan bantuan antibiotik khusus selama enam bulan, bakteri ini bisa dieliminasi sepenuhnya. Pasca 14 hari pertama isolasi dan pengobatan, risiko penularan ke orang lain bahkan sudah turun drastis. Menurut dr. Ngabila potensi yang tersisa hanya tinggal sekitar 10 hingga 20 persen.
Namun di balik harapan besar itu, tentunya tersisa momok yang tak kalah besar. Mengingat, penularan penyakit TBC memang sulit terkontrol. Dari 1 orang penderita, bisa saja menularkan 15 sampai 20 orang lainnya. Dari hal itu lah, tercetus strategi nasional bertajuk TOS. Dengan kepanjangan Temukan, Obati, Sembuh, pemerintah menekankan fokus utama pada deteksi dini.
"TBC ini ada strateginya yang namanya tos TBC temukan TBC obati sampai sembuh. Artinya TBC ini harus harus ditemukan oleh siapa saja, masyarakat, kader-kader, dan harus kita bantu pengobatannya sampai sembuh tanpa stigma. Karena TBC ini 100% dapat disembuhkan. Bukan penyakit yang berbahaya, penyakit yang biasa ada sehari-hari dan harus kita dukung psikososialnya orang yang sedang pengobatan TBC karena selama 6 bulan tadi untuk benar-benar menuntaskan pengobatan TBC itu" sambungnya.

Lewat pendeteksian dini secara menyeluruh, barulah pengobatan dilakukan. Tak hanya kepada yang tubuhnya sudah mulai terinfeksi, tetapi juga bagi mereka yang masih berada di tahap dorman. Penyelidikan kontak dilakukan tak hanya di lingkungan tempat tinggal, tetapi juga di lingkungan kerja.
"Kepada lingkungan sekitarnya itu pada orang yang TBC dilakukan penyelidikan kontak 15 orang minimal sekitarnya 15 sampai 20 orang artinya dua rumah depan, dua rumah belakang, dua rumah kanan, dua rumah kiri juga di tempat kerjanya. pada beberapa yang terindikasi dorman TBC itu bisa diberikan obat untuk pencegahan. Kita bisa juga berikan seperti itu." Tambahnya
Dokter Ngabila Salama berharap, tahun 2026 ini akan menjadi ajang bagi pemerintah untuk mendeteksi sebanyak-banyaknya penderita TBC. Sehingga beberapa waktu ke depan, pengobatan bisa dilakukan secara menyeluruh.
"Sehingga harapannya dengan menemukan kasus dulu saat ini 2026 sebanyak mungkin mengobati dia akan bisa kan kita lagi baru mau gini nih nemukan kasus dulu yang banyak kalau sudah sampai puncaknya kita ketemu kasus baru dia akan mulai eliminasi secara perlahan-lahan" tutupnya.