Image Source : cumicumi
Presiden ketujuh Republik Indonesia, Joko Widodo, atau yang akrab disapa Jokowi, akan melanjutkan agenda silaturahmi kebangsaannya ke berbagai wilayah Indonesia. Setelah sebelumnya mendatangi Lampung pada 26 hingga 28 Juni lalu, tujuan berikutnya dari rangkaian kunjungan Jokowi adalah Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Juli hingga 2 Agustus mendatang.
Namun, agenda tersebut memancing sentimen negatif, lantaran sejumlah pihak menduga kunjungan ini sarat muatan safari politik. Menanggapi hal itu, Ketua Umum Militan Gibran 08 Nusantara sekaligus relawan setia Jokowi, Andi Azwan, angkat bicara. Alih-alih merasa tersinggung, Andi justru menyebut dugaan tersebut sah-sah saja.
"Kalau mau dibilang safari politik sih sah-sah saja ya, karena ini kan ada namanya konsolidasi dari partai politik, ya kan, seperti PSI. Sah-sah saja mau dibilang safari politik, ya, ada juga safari kebangsaan. Ya, sah-sah saja, tidak ada pelarangan untuk itu, gitu loh, ya," ucap Andi Azwan kepada Cumicumi, Kamis (30/7/2026).
Baca Juga: Safari Jokowi "Pulang Kampung ke NTT"
Di sisi lain, Andi Azwan juga menilai pihak-pihak yang menyindir kunjungan tersebut sejatinya tengah menunjukkan kekhawatiran mereka sendiri, akan pergeseran peta politik di Indonesia, seiring dengan kemungkinan Jokowi berlabuh ke salah satu partai politik.
"Kalau ada yang mengatakan mencibir, menyinyir, ya itu kan artinya mereka ini, secara harfiah, ini sudah ketakutan, bahwa mungkin konstituennya itu nanti akan berpindah perahunya ya ke tempat yang lain, seperti itu, ya," ujarnya.
Mengingat besarnya daya tarik Jokowi di kalangan masyarakat, Andi meyakini bahwa pengumuman resmi keterlibatan Jokowi dalam sebuah partai politik akan menimbulkan guncangan besar di dunia politik Tanah Air.
"Apalagi kalau kita lihat dari sosok seorang Pak Jokowi ini, yang merupakan magnet yang besar. Setiap partai politik yang akan dia gawangi nantinya itu akan merupakan suatu magnet yang besar, dengan magnitude, ya, kalau kita ibaratkan gempa, mungkin tujuh skala richter, ya. Itu akan menjadi suatu migrasi yang besar terjadi, bila beliau menjadi nakhoda partai politik itu secara resmi," jelasnya.
Baca Juga: Kolaborasi Harmonis Menyambut Safari Joko Widodo di NTT
Terlepas dari polemik tersebut, Andi menilai kunjungan semacam ini semestinya menjadi hal yang lumrah dilakukan oleh para mantan pemimpin negeri.
"Ini suatu hal yang baik. Artinya, seorang presiden ketujuh, tidak ada yang mengatakan mantan, ya, tapi presiden ketujuh, dan juga pemimpin-pemimpin berikutnya, bisa memberikan suatu keteladanan seperti itu. Artinya, ketika dia menjabat, dan ketika beliau tidak menjabat lagi secara struktural, itu tetap menjalin yang namanya hubungan silaturahmi kepada masyarakat yang pernah beliau pimpin sebagai pemimpin dari negara Republik Indonesia ini," pungkasnya.