Image Source :
Memasuki hari kedua kunjungannya ke NTT, Jokowi seperti menulis cerita yang sangat epic. Pagi ini puluhan ribu massa tumpah ruah di lokasi car free day di depan Kantor Gubernur NTT. Arena sepanjang jalan depan istana penguasa NTT itu, lautan manusia tak terbendung, menunggu sosok yang mereka kagumi.
Pemandangan serupa juga terjadi sehari sebelumnya, saat Jokowi meninjau lokasi pusat budidaya rumput laut di Pantai Oesina, sekitar 26 Km dari pusat kota Kupang. Masa membludak sejak pagi, meski Jokowi baru tiba sekira pkl. 14.00 WITENG. Sebagian massa rela datang jauh-jauh dari Soe dan sekitarnya yang, jaraknya cukup jauh, dengan waktu tempuh sekuta 3 - 4 jam.
Siapa pun yang melihat kedua momen ini pasti bingung dengan setumpuk pertanyaan di kepala. Siapa orang ini, sampai masyarakat begitu mengelu-elukannya. Dia seperti magnet yang menarik ribuan massa ke mana pun kakinya melangkah. Bahkan, ketika Jokowi berbelok ke toilet begitu menjejakkan kaki di Oesina, massa spontan mengikutinya. Mereka tidak beringsut sedikit pun waktu Jokowi buang air kecil, dan langsung menyerbunya sesaat setelah pintu toilet terbuka.
Tidak ada barisan rapi, pagar keamanan paspampres diterobos, bahkan oleh seorang bocah SD yang, entah apa isi pikirannya, tak menghiraukan halauan para paspampres demi berada sangat dekat dengan Jokowi.
Mungkin deskripsi ini terlalu berlebihan, tapi begitulah realitas yang tercipta selama dua hari Jokowi di NTT. Untuk kita yang memandang segala sesuatu dengan lapisan logika rasional, fenomena ini mungkin terasa tidak waras, abnormal. Barangkali masyarakat memang sudah terkikis akal rasionalnya, karena banyak hal buruk dirasionalisasi oleh para ahli pikir dan pakar narasi di negeri ini. Tapi mari kita bedah fenomena abnormal ini dengan akal dan ratio yang berimbang.
SIAPA JOKOWI SAMPAI MASYARAKAT NTT BEGITU MENGAGUMINYA?
Jokowi tidak datang dalam kapasitas sebagai Presiden yang, taruhlah dia bisa menggerakkan elemen di bawah kekuasaannya agar mengerahkan massa untuk tujuan show power. Dia juga bukan seorang pimpinan partai yang, bisa saja mengerahkan seluruh kader agar meramaikan kunjungannya. Jokowi kini seorang warga biasa, presiden yang sudah purna tugas dua tahun lalu.

Dalam hal inilah, "kepungan massa" di setiap kunjungannya menjadi sebuah anomali besar. Ia seorang warga Solo, tapi dipuja di NTT. "Jimat sosial" apa yang dia miliki, sampai auranya menembus jarak Solo - Kupang sekitar 1.435 hingga 1.449 kilometer?
Bagi warga NTT, Jokowi rupanya bukan hanya seorang presiden. Pengaruhnya tidak terpasung dalam periode 10 tahun memerintah Indonesia sebagai kepala negara. Sebaliknya, di mata masyarakat NTT dan warga daerah lain yang sama mengaguminya, Jokowi adalah patron, referensi, sekaligus standar ideal seorang pemimpin.
Jokowi diterima sebagai bagian dari hidup mereka. Kenapa? Karena semasa memimpin Indonesia dia datang, masuk ke dalam ruang kehidupan mereka dan mendalami akar persoalan ekonomi, sosial, dan kultur masyarakat. Slogan JOKOWI ADALAH KITA, bukan sebatas pemanis retorika. Aksi blusukannya, yang kerap jadi olok-olokan elite politik dan kaum cendikia, dimaknai sebagai passion, kepedulian dan empati yang dalam bagi masyarakat.
Di NTT jejak blusukan Jokowi melekat betul dalam dinding ingatan warga. Bendungan yang ia bangun, jalan-jalan, sekolah, bandara dan berbagai fasilitas lainnya, kini jadi semacam monumen memorial yang membuat masyarakat NTT sulit melupakan Jokowi. Tercatat 20 triliun rupiah ia gelontirkan dana APBN untuk mengupgrade ketertinggalan NTT setelah puluhan tahun Indonesia merdeka.
Tentu tidak semua yang ia lakukan dengan serta merta mengubah NTT menjadi propinsi makmur sejahtera. Geografi kepulauan NTT adalah pekerjaan besar, yang tidak bisa diubah Jokowi dalam 10 tahun. Tapi bagi masyarakat di pelosok NTT, Jokowi sudah melakukan hal luar biasa, membangun konektivitas dan menjawab kerinduan besar selama puluhan tahun yakni, memiliki infrastruktur dasar yang cukup memadai.
Selain itu, secara psikologis, Jokowi mengangkat status masyarakat NTT yang selama ini seperti anak tiri ibu pertiwi. Mereka bahagia karena Jokowi begitu intens berkunjung, hal yang sangat dihargai oleh masyarakat NTT. Tercatat setidaknya lebih dari 20 kali Jokowi mengunjungi propinsi kepulauan ini. Selama ini, jangankan presiden, pimpinan lokal mereka sekalipun rasa-rasanya tidak seintens Jokowi mendatangi warga.
Dan kunjungan-kunjungan itu selalu dimeterai dengan sejumlah cinderamata, berupa pembangunan saran fisik, bantuan sosial, dan berbagai tanda kepedulian Jokowi lainnya.
Jokowi seperti Julius Caesar, Kaisar Romawi yang sangat mashyur itu, dengan mottonya, veni, vidi, vici - saya datang, saya lihat, saya menang. Ya, pria Solo ndeso itu sudah datang, melihat, dan akhirnya memenangkan hati masyarakat NTT sampai saat ini, dan entah sampai kapan. (vibes)